Selasa, 28 Desember 2010

Mengenang Bapak Op. Taruliasi

Hari ini adalah peringatan satu tahun wafatnya bapak saya. Jauh-jauh hari ibu saya sudah meminta kelima anaknya untuk meluangkan waktu di weekend panjang ini untuk berdoa bagi bapak dengan berkumpul bersama di rumah ibu. Ya, rumah tempat kami dulu tinggal bersama. Tempat bapak, ibu, saya, dan empat saudara saya menghabiskan masa lalu kami. Selain peringatan wafatnya bapak, hari ini juga bertepatan dengan hari ulang tahun adik saya yang ke-43. Sedangkan tahun 2010 ini ibu saya yang merayakan hari jadinya yang ke-51. Dan dipilihlah hari Minggu kemarin untuk memperingati ketiga momen itu. Acara berlangsung sederhana. Kami hanya berkumpul, makan malam bersama, dan berdoa. Peringatan wafatnya bapak menjadi fokus utama kami. Tak heran, banyak memori masa lalu bersama bapak muncul lagi.

Tak terasa sudah satu tahun bapak meninggalkan kami. Rasanya seperti baru kemarin kami berlima diasuh bapak dan ibu. Rasanya seperti baru kemarin saya bergelayutan manja di bahu bapak. Rasanya seperti baru kemarin saat saya bermain hujan-hujanan dan kemudian digelandang bapak pulang ke rumah. Saya berontak, menangis, dan diledek teman-teman. Duh, malunya. Rasanya seperti baru kemarin saya dihadiahi bapak Kamera foto karena saya diterima di universitas swasta. Rasanya seperti baru kemarin saat saya melihat bapak tersenyum bahagia di hari pernikahan. Dan, rasanya seperti baru kemarin saat Tardidi atau pemandian anak perempuanku Trya Olga Amika Simamora, kemudian bapak tutup usia.

Saat bapak meninggal, saya pribadi merasa ‘kecewa’ karena bapak pergi terlalu cepat. Cita-cita untuk membahagiakan bapak tidak tercapai. Saya ingin membalas pengorbanan dan kasih sayangnya yang telah diberikannya kepada kami selama ini. Dahulu bapak pernah bilang ingin melihat saya punya rumah dan mobil. Dimata beliau, itu sangat membanggakannya. Baru saja saya berhasil mewujudkan salah satu harapan bapak saat saya dan istri saya. Puji Tuhan, berhasil membeli Mobil pada Maret 2009 lalu. Beliau sangat senang mendengarnya. Tak sabar rasanya segera mengajak bapak naik mobil kami. Tapi takdir berkata lain. Bapak ternyata tak kan pernah naik mobil kami yang saya dedikasikan untuk beliau.

Begitulah, banyak sekali kepingan memori yang muncul saat kita mengenang orang tercinta yang telah pergi meninggalkan kita. Kini orang tua saya tinggal ibu, yang tak kalah besar pengorbanan dan kasih sayangnya untuk anak-anaknya. Sekarang tidak ada alasan bagi saya untuk tidak membahagiakan ibu saya, selagi saya masih bisa melihat senyumnya hingga detik ini.

Pesannya :

Nungga leleng au dison
Mandohoti pardalanan ni portibi on
Alai dang muba, najolo tu saonari
Songonon dope

Tontong do au dison
Sonang do au dison

Aha nahurang be nian ?
Aha silehononku ?
Unang segai au..

Aha nahurang be nian ?
Aha sibahenonku ?
Unang arsaki au

Tontong do au dison
Sonang do au dison

Doa di Hari Natal 2010 dan Tahun Baru 2011

To : Kel Besar Op.Taruliasi

Bapa yang terkasih, tolonglah kami untuk mengingat kelahiran Yesus, sehingga kami dapat turut bernyanyi bersama para malaikat, turut bergembira bersama para gembala, dan turut menyembah bersama para orang Majus.

Tutuplah pintu kebencian dan bukalah pintu kasih di seluruh penjuru dunia. Biarlah kebaikan hati setiap orang tersalur dalam setiap pemberian hadiah dan niat baik senantiasa menyertai setiap ucapan selamat kami.

Lepaskanlah kami dari yang jahat melalui berkat yang Kristus bawa, dan ajarilah kami agar dapat bersukaria dengan hati yang bersih.

Semoga pagi di hari Natal ini membuat hati kami berbahagia karena menjadi anak-anak-Mu, dan malam Natal nanti menghantar kami tidur dengan pikiran yang dipenuhi ucapan syukur, kesediaan untuk mengampuni dan diampuni, semata-mata untuk menyenangkan hati Yesus, Amin!

Selasa, 19 Oktober 2010

Arti Berbagi yang Sebenarnya

Untuk Istriku : Marlinda Simarmata

Sepasang kakek-nenek datang kerestoran Mc Donald dengan saling menuntun. Mereka duduk disebuah bangku panjang berdua, di samping seorang anak muda. Si kakek segera berdiri dan memesan makanan,sebuah hamburger, seporsi kentang goreng dan segelas minuman.Setelah itu kembali duduk, membagi hamburger jadi 2 bagian, menghitung kentang goreng dengan cermat dan membagi adil dengan si nenek, kemudian mengambil dua sedotan, menaruh gelas minuman tepat ditengah meja. Si anak muda memperhatikan tingkah sepasang kakek-nenek itu dengan salut.

Si kakek kemudian mulai makan bagiannya, sementara si nenek hanya memperhatikan. Si anak muda merasa kasian, akhirnya mendekat dan berkata: “Kek boleh … Si Kakek jawab : “ tidak usyah terima kasih..kami selalu berbagi makanan yang sama”. Sampai si kakek selesai makan, mengelap mulut dengan tissue, si nenek masih saja menunggu tanpa menyentuh makanan bagiannya.

Si anak muda mendekat lagi, kali ini berkata: “Nek, boleh saya belikan makanan yang lain, mungkin nenek tidak suka yang ini?” Si Nenek jawab: “Tidak terimakasih..” Terus si Anak muda bertanya lagi, “Kalau begitu kenapa makanannya tidak dimakan, katanya kalian suka berbagi?” Kata si Nenek, “SAYA SEDANG MENUNGGU GIGI… GANTIAN SAMA KAKEK!!”

Seorang Istri

Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.

Istri yang baik adalah kebanggaan dan kebahagiaan suaminya, istri yang membuat suaminya malu adalah bagaikan penyakit tulang yang menggerogoti tulang suaminya

Istri yang baik adalah sukacita dan mahkota suaminya, tetapi istri yang merongrong hidup suaminya dan menghambat segala pekerjaannya dan sangat memalukan.

Seorang Wanita haruslah mengetahui Amsal 31: 10-31

Wanita yang pandai lagi berhikmat, Wanita yang dapat menjadi penolong yang setia untuk suaminya, dan menjadi seorang ibu yang baik buat anak-anak dan keluarganya, Wanita yang Rajin, Wanita yang Kuat, Wanita yang Murah Hati, Wanita yang Lemah Lembut, Wanita yang tidak takut akan hari esok, dan yang pasti Wanita yang TAKUT AKAN TUHAN.

PERCERAIAN

I Korintus 7:10-15

"Kepada orang-orang yang telah kawin aku tidak, bukan aku, tetapi Tuhan perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya. Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya. Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu. Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus. Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera."